
<aside>
https://open.spotify.com/episode/0xSo3yLfWfKJVfrfA46XIh?si=idmZ147iTTGkfAj1CotmQA
</aside>
<aside>
https://youtu.be/Ke4Cfnmo_58?si=_LYIvo2IE8lpW_Lw
</aside>
<aside>
Untuk mengetahui lebih lanjut, kunjungi:
<aside>
https://museumnegeri.ntbprov.go.id/home
</aside>
<aside>
https://www.facebook.com/lombokheritages
</aside>
</aside>
<aside>
Below are several digital library sources you can use to find information about Lombok or the Indonesian archipelago:
Lombok adalah sebuah pulau di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia, yang merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Sunda Kecil. Terletak di sebelah timur Bali dan barat Sumbawa, Lombok dipisahkan dari kedua tetangganya oleh Selat Lombok, yang memiliki kedalaman lebih dari 1.100 meter (3.600 kaki) dan menandai garis terkenal Wallace Line — batas alami tempat spesies Asia dan Australia mulai berbeda.
Dengan luas sekitar 4.600 kilometer persegi (1.826 mil persegi), Lombok sedikit lebih kecil dari Bali, meskipun kepadatan penduduknya serupa. Bentuk pulau ini hampir bulat dengan satu semenanjung yang menjorok ke arah barat daya. Lanskapnya sangat beragam: pegunungan vulkanik di utara yang didominasi oleh Gunung Rinjani — gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia — beralih menjadi dataran subur di tengah, sabana kering di selatan, dan gugusan Kepulauan Gili di lepas pantai yang terkenal di seluruh dunia sebagai destinasi menyelam dan snorkeling. Pulau ini juga dipenuhi dengan pura dan masjid kuno, pasar tradisional yang ramai, serta komunitas yang masih melestarikan tradisi tenun, tembikar, dan tari khas mereka.
Dihuni oleh sekitar 4 juta jiwa, sebagian besar penduduk Lombok berasal dari etnis Sasak, yang mayoritas beragama Islam namun tetap menjaga tradisi leluhur mereka. Bahasa Sasak memiliki lima dialek utama, dan kebanyakan orang bersifat dwibahasa — menggunakan dialek Sasak serta Bahasa Indonesia, bahasa nasional. Komunitas Bali Hindu, Jawa, Arab, Bugis, dan Tionghoa turut memperkaya keberagaman budaya di pulau ini. Kesopanan dan ketulusan sangat dijunjung tinggi dalam masyarakat Sasak, dan para pengunjung akan disambut dengan hangat bila menunjukkan rasa hormat terhadap adat setempat — seperti berpakaian sopan di luar area pantai, menjaga sikap di tempat umum, dan mengonsumsi alkohol dengan bijak.
Pada tahun 1970, ketika Effendi Zarkasih meresmikan Masjid Agung Cakranegara, ia terkesan oleh banyaknya masjid di seluruh pulau. Ia pun menamai Lombok sebagai “Pulau Seribu Masjid” — julukan yang masih digunakan dengan bangga hingga kini. Namun, nama Lombok sendiri telah muncul jauh sebelumnya dalam sastra klasik, terutama dalam Kakawin Nagarakretagama (1365), sebuah puisi epik dari masa Majapahit, di mana disebutkan sebuah pulau bernama Lombok Mirah sebagai bagian dari wilayah Majapahit. Dari catatan ini lahirlah moto puitis “Lombok Mirah Sasak Adi”, yang masih menjadi bagian dari tradisi Sasak hingga sekarang. Dalam terjemahan: Lombok berarti lurus atau jujur, Mirah berarti permata atau sesuatu yang berharga, Sasak berarti rakyatnya, dan Adi berarti mulia. Secara keseluruhan, ungkapan ini bermakna: “Lombok adalah permata berharga, rakyat Sasak adalah bangsa yang mulia.”
Sejak tahun 1980-an, promotor pariwisata sering menyebut Lombok sebagai “Bali berikutnya” karena letaknya yang berseberangan langsung dengan Bali, memiliki pantai, gunung, dan budaya yang serupa, serta menjadi alternatif dari kepadatan wisata di Bali. Pada tahun 2016, sebagai bagian dari strategi nasional pariwisata, pemerintah Indonesia menetapkan Mandalika, Lombok Selatan, sebagai salah satu dari “10 Bali Baru” — destinasi prioritas nasional. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, sebuah proyek berskala besar di pesisir selatan Lombok Tengah, mencakup area lebih dari 1.100 hektare. Didukung oleh pemerintah Indonesia dan investor swasta, kawasan ini dirancang untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, dengan menggabungkan resor mewah, infrastruktur ramah lingkungan, serta acara besar seperti balapan MotoGP di Sirkuit Internasional Mandalika.
Namun di balik semua yang terlihat hari ini, sejarah Lombok menyimpan kisah yang lebih dalam — dari peristiwa dahsyat letusan Samalas tahun 1257, munculnya kerajaan-kerajaan Sasak, pengaruh Bali, penyebaran Islam, masa kolonial Belanda, hingga perannya dalam Indonesia modern. Sejarah ketahanan dan kemampuan beradaptasi inilah yang terus membentuk identitas Lombok hingga saat ini.
<aside>
Catatan: Sejarah Lombok sebagian besar diwariskan secara lisan, dan catatan tertulis yang ada masih terbatas atau terkadang tidak konsisten. Apa yang kami bagikan di sini adalah upaya terbaik kami untuk menyusun kembali kisah Lombok berdasarkan berbagai sumber yang kami pelajari. Ini bukan versi akhir atau definitif dari sejarah Lombok. Jika Anda memiliki saran, sumber tambahan, atau koreksi, kami dengan hangat mengundang Anda untuk berbagi dan berkontribusi agar kisah ini menjadi lebih lengkap!
</aside>
<aside>
</aside>
Gunung yang dahulu dikenal sebagai Gunung Samalas pernah berdiri di tempat di mana kini terdapat Gunung Rinjani dan danau kawahnya yang menakjubkan, Segara Anak. Pada tahun 1257, Samalas meletus dengan kekuatan dahsyat hingga seluruh puncaknya runtuh. Gunung yang dulu menjulang tinggi berubah menjadi kaldera — kawah raksasa yang terbentuk ketika tanah amblas akibat letusan besar. Seiring waktu, kaldera ini terisi air dan membentuk Danau Segara Anak yang berwarna biru mencolok, sementara di tengahnya muncul kerucut baru bernama Gunung Barujari, yang sering disebut sebagai “Anak Rinjani” — gunung berapi muda yang masih aktif hingga sekarang.

https://www.museumoflost.com/the-samalas-eruption/
Saat ini, ketika orang mendaki Gunung Rinjani, sebenarnya mereka sedang berdiri di atas sisa-sisa gunung purba Samalas.
Selama berabad-abad, letusan Samalas hanya dikenal melalui tradisi lisan dan catatan tulisan masyarakat Lombok, sementara dunia luar belum menyadari betapa dahsyatnya peristiwa tersebut. Di sisi lain, para ilmuwan yang meneliti inti es di Greenland dan Antartika telah lama menemukan jejak letusan besar yang terjadi pada tahun 1257 Masehi, namun asal gunung berapinya masih menjadi misteri. Teka-teki tentang “gunung yang hilang” ini berlangsung selama beberapa dekade.

https://www.facebook.com/pendakilawas01/posts/gunung-samalas-yang-terletak-di-pulau-lombok-indonesia-meletus-dahsyat-pada-tahu/1041071254868898/
Terobosan besar terjadi pada tahun 2013, ketika tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan asal Prancis Franck Lavigne dan rekan-rekannya berhasil mengungkap misteri tersebut. Melalui kombinasi survei geologi, penanggalan radiokarbon, analisis geokimia, dan penelitian naskah lokal, mereka membuktikan bahwa Gunung Samalas adalah sumber letusan dahsyat tahun 1257. Temuan mereka yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) akhirnya memecahkan teka-teki yang telah membingungkan dunia selama puluhan tahun. Ternyata, misteri global itu berakar di pegunungan Lombok.
Letusan Samalas tahun 1257 tidak hanya menjadi peristiwa geologis dan iklim berskala dunia, tetapi juga kisah penemuan kembali, di mana ilmu pengetahuan modern dan tradisi kuno Sasak bertemu untuk menerangi salah satu bencana alam terbesar dalam sejarah manusia.
Pada tahun 1257 Masehi, Gunung Samalas melepaskan salah satu letusan gunung berapi paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah. Dengan Indeks Letusan Vulkanik (VEI) 7, Samalas sejajar dengan letusan besar Gunung Tambora (1815) dan delapan kali lebih kuat daripada Krakatau (1883). Peristiwa ini merupakan bencana apokaliptik bagi masyarakat Lombok: awan panas dan aliran piroklastik menimbun desa-desa di bawah lapisan abu, batu apung, dan gas panas setebal beberapa meter, menghancurkan permukiman dan lahan pertanian di seluruh pulau, bahkan melintasi selat untuk memporakporandakan sebagian wilayah Sumbawa.
Ibu kota kerajaan saat itu, Pamatan, hancur total dan tidak pernah dibangun kembali — lenyap dari catatan sejarah layaknya Pompeii-nya Asia Tenggara.
Naskah kuno Babad Lombok — kumpulan tradisi lisan yang kemungkinan baru disusun pada abad ke-18 atau ke-19, beberapa abad setelah letusan Samalas — menceritakan bahwa “semua rumah hancur dan tersapu, mengapung di laut, dan banyak orang meninggal.”
Tiga naskah utama, yakni Babad Lombok, Babad Suwung, dan Babad Sembalun, menyimpan ingatan kolektif tentang bencana tersebut, menggambarkan kehancuran desa-desa, kesunyian (suwung) yang menyelimuti pulau setelahnya, serta ketangguhan masyarakat dalam membangun kembali kehidupan mereka.
Bukti ilmiah mengonfirmasi skala luar biasa dari bencana ini. Setidaknya 40 kilometer kubik batu dan abu terlontar, dengan kolom letusan mencapai 50 kilometer ke atmosfer. Abu halus dan aerosol sulfat menyelimuti bumi, menghalangi sinar matahari dan mengubah iklim global.
Inti es di Greenland dan Antartika menunjukkan lonjakan besar kadar sulfat pada tahun 1257–1258, yang merupakan yang terkuat dalam seribu tahun terakhir.
Analisis karbon-14 menunjukkan tidak ada pertumbuhan pohon muda setelah tahun tersebut, menandakan kondisi lingkungan yang benar-benar mematikan. Di Pulau Lombok sendiri, lapisan abu mencapai kedalaman hingga 35 meter — setara dengan bangunan delapan lantai.
Dampak globalnya pun terasa luas. Pada tahun 1258, belahan bumi utara mengalami musim panas yang sangat dingin, disertai hujan lebat dan banjir yang menyebabkan gagal panen di Eropa. Catatan sejarah Eropa dan Timur Tengah menggambarkan adanya “kabut kering”, suhu yang tidak wajar, hujan tanpa henti, dan panen yang rusak. Akibatnya, kelaparan dan wabah penyakit melanda berbagai wilayah, yang oleh sebagian sejarawan diyakini turut memperburuk kondisi menuju Zaman Es Kecil (Little Ice Age) dan bahkan menjadi faktor yang membuka jalan bagi Wabah Hitam (Black Death) di abad-abad berikutnya.
Meskipun dampak globalnya banyak dibahas, dampak lokalnya masih jarang diketahui — termasuk pengaruh sosial dan demografis terhadap Lombok dan pulau tetangganya, Bali serta Sumbawa.
Diduga, Lombok dan Bali menjadi sepi penduduk selama beberapa generasi, yang mungkin menjelaskan mengapa Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari di Jawa dapat menaklukkan Bali pada tahun 1284 tanpa perlawanan berarti. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa pemulihan penuh memakan waktu hampir satu abad.
https://www.bbc.com/news/science-environment-24332239
https://www.pnas.org/doi/10.1073/pnas.1307520110
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0377027322002190
https://eos.org/articles/stories-scribed-on-palm-leaves-help-scientists-understand-ancient-eruption
<aside>
</aside>
Menurut Babad Lombok, permukiman tertua yang dikenal di pulau ini bernama Lae atau Laeq, yang berarti “masa yang sangat lampau.” Nama tersebut sendiri menunjukkan bahwa Lae mungkin lebih merupakan kota pertama yang bersifat legendaris daripada tempat historis yang benar-benar ada.
Kemudian muncul permukiman baru bernama Pamatan, yang disebut-sebut sebagai ibu kota kerajaan awal di Lombok. Tidak ada yang tahu pasti di mana Lae atau Pamatan pernah berdiri, dan belum ditemukan sisa-sisa arkeologis yang jelas. Para ilmuwan meyakini bahwa Pamatan masih ada, terkubur jauh di bawah lapisan endapan vulkanik, menunggu untuk ditemukan. Dalam Babad Lombok, Pamatan digambarkan sebagai kota pesisir yang ramai, dengan kegiatan pertanian, perikanan, dan perdagangan — dihuni oleh sekitar 10.000 jiwa.
Meskipun bencana Samalas menghancurkan banyak hal, masyarakat Sasak tetap bertahan. Keluarga kerajaan disebutkan berhasil menyelamatkan diri, dan seiring waktu, komunitas-komunitas baru mulai tumbuh kembali. Letusan itu tidak mengakhiri peradaban Sasak — melainkan mengubah arahnya, menuju kemunculan kerajaan-kerajaan baru di seluruh Lombok.
Pada abad ke-14 dan ke-15, kerajaan-kerajaan Sasak baru mulai bermunculan. Alih-alih berada di bawah satu penguasa tunggal, Lombok terbagi menjadi banyak kerajaan kecil yang dipimpin oleh raja lokal atau datu. Yang paling terkenal adalah Pejanggik dan Selaparang, namun ada juga kerajaan lain seperti Langko, Bayan, Sokong Samarkaton, dan Kuripan. Kerajaan-kerajaan ini sering bersaing satu sama lain — kadang bersekutu, kadang berperang. Mereka juga terpengaruh oleh kekuatan besar dari luar, seperti Majapahit dari Jawa, kemudian kerajaan-kerajaan Islam, dan akhirnya pengaruh Bali.
Kerajaan Pejanggik berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Praya, Lombok Tengah. Kerajaan ini tumbuh setelah letusan Samalas dan menjadi salah satu kerajaan Sasak awal yang kuat.
Para penguasanya, yang bergelar Datu Pejanggik, memerintah berdasarkan tradisi Sasak, dengan struktur masyarakat yang terdiri dari bangsawan, pemimpin adat, dan komunitas petani. Pada awalnya, rakyat Pejanggik menganut kepercayaan kuno Sasak yang dikenal sebagai agama Boda. Namun kemudian, budaya Hindu-Jawa dari Majapahit mulai memberi pengaruh, yang akhirnya diikuti oleh masuknya Islam.
Kerajaan Pejanggik menguasai sebagian besar wilayah selatan dan tengah Lombok. Namun seiring waktu, kekuasaannya mulai melemah oleh saingannya di timur, yaitu Selaparang. Ketika pengaruh Islam menyebar dan Selaparang semakin kuat, Pejanggik kehilangan pengaruhnya.
Pada abad ke-17, Pejanggik juga terlibat dalam perang dengan kerajaan Bali Karangasem, yang pada akhirnya menguasai seluruh Pulau Lombok.

Makam Kerajaan Selaparang Referensi:: https://maps.app.goo.gl/ZfEeAEmQ4qoEcfe26
Kerajaan Selaparang, yang berpusat di Lombok Timur, menjadi kerajaan Sasak terkuat.
Sejarawan biasanya membagi sejarah Selaparang menjadi dua periode:
Para penguasa Selaparang, yang dikenal sebagai Raden, membangun kerajaan Islam yang kuat, menyatukan banyak kerajaan Sasak kecil. Meskipun Islam menjadi agama utama, adat Sasak dan tradisi Hindu-Jawa lama tetap berpadu.
Pada puncaknya, Selaparang menguasai sebagian besar Lombok dan diakui sebagai pusat budaya dan politik Sasak. Namun pada 1672, kerajaan Bali Karangasem menyerbu dan menaklukkan Selaparang, memulai periode pendudukan Bali yang panjang hingga abad ke-19.